Oktober 2014
Pukul 23.05 pesan dari bbm itu diterimanya. Tandanya laki-laki hampir setengah baya itu harus siap-siap pergi. Sebuah ransel yang sudah siap disautnya dengan cepat berada sempurna dipunggungnya. Sepeda motor butut yang dibelinya 10 tahun yang lalu mengantarnya ke jalan raya. Jalanan sepi. Iya karena ini malam hari. Ia menelusuri jalan utama kota kecil itu. Ke arah timur ia pergi sampai ke perbatasan kota. Akhirnya berhentilah ia di depan sebuah swalayan mini. Diparkirkannya sepeda motor itu di sana. Ia masuk ke swalayan itu menuju sebuah konter minuman. Kopi instan dan air panas mendidih yang telah disediakan dibuatnya sendiri, setelah itu dia menuju ke kasir. Dirogohnya uang recehan dari dalam saku celananya. Ia membayar lalu keluar. Bangku kayu di depan swalayan itu didudukinnya. Perlahan dia menyeruput kopi yang ada didalam gelas kertas itu. Ia duduk melamun di situ. Seperti menunggu sesuatu. Setiap bus dari arah timur yang berhenti di depannya selalu ditengoknya. Beberpa bus sudah berhenti dan lewat begitu saja. Dia masih sabar menuggu.
Pukul 23.05 pesan dari bbm itu diterimanya. Tandanya laki-laki hampir setengah baya itu harus siap-siap pergi. Sebuah ransel yang sudah siap disautnya dengan cepat berada sempurna dipunggungnya. Sepeda motor butut yang dibelinya 10 tahun yang lalu mengantarnya ke jalan raya. Jalanan sepi. Iya karena ini malam hari. Ia menelusuri jalan utama kota kecil itu. Ke arah timur ia pergi sampai ke perbatasan kota. Akhirnya berhentilah ia di depan sebuah swalayan mini. Diparkirkannya sepeda motor itu di sana. Ia masuk ke swalayan itu menuju sebuah konter minuman. Kopi instan dan air panas mendidih yang telah disediakan dibuatnya sendiri, setelah itu dia menuju ke kasir. Dirogohnya uang recehan dari dalam saku celananya. Ia membayar lalu keluar. Bangku kayu di depan swalayan itu didudukinnya. Perlahan dia menyeruput kopi yang ada didalam gelas kertas itu. Ia duduk melamun di situ. Seperti menunggu sesuatu. Setiap bus dari arah timur yang berhenti di depannya selalu ditengoknya. Beberpa bus sudah berhenti dan lewat begitu saja. Dia masih sabar menuggu.
Setengah jam kemudian sebuah bus kelas ekonomi berhenti di depan swalayan itu. Penumpang turun satu persatu. Seorang laki-laki muda berkulit gelap dengan celana quick dry berwarna biru dan kaos berwarna merah bergambar logo selancar turun dari bus itu. Kakinya melangkah sambil membenarkan posisi tas ranselnya yang berukuran 65 liter itu dipunggungnya. Ia melambaikan tangan kepada lelaki yang duduk di depan swalayan itu. Laki-laki itu menyambutnya. Ia berjalan mendekatinya kemudian memeluknya. “Welcome home!”. Bisiknya.
Tanpa menunggu lama mereka menuju motor butut itu. Setelah menstater mesin dia menyilakan pemuda itu memboncengnya.
Dua lelaki berbeda usia itu bergerak ke arah selatan lalu ke timur mengikuti jalanan yang mengarah ke atas sebuah bukit. Jalan yang berkelok-kelok itu kemudian menurun. Jalanan itu melewati beberapa desa kecil, ladang-ladang ketela pohon dan beberapa hutan kering diatas pegunungan. Dalam waktu dua jam perjalanan mereka habiskan. Jalan setapak yang bisa dilalui sepeda motor dilaluinya. Hembusan angin dengan aroma laut mulai terasa. Akhirnya sampailah mereka di sebuah bibir pantai berpasir putih yang tersembunyi dari jalan utama. Suara riuh ombak terdengar jelas.
November 2014
Lelaki muda itu mulai melepaskan ranselnya. Dipisahkannya sebuah kantung panjang. Dikeluarkan isinya kemudian dibentangkan di tanah. Dia menyambung pipa-pipa kecil menjadi bagian lima pipa panjang. Lelaki satunya membantunya memasang pipa-pipa itu dari ujung ke ujung yang lainnya dan membuat tali simpul di tiap ujungnya. Mereka sedang mendirikan sebuah tenda.
Lelaki muda itu mulai melepaskan ranselnya. Dipisahkannya sebuah kantung panjang. Dikeluarkan isinya kemudian dibentangkan di tanah. Dia menyambung pipa-pipa kecil menjadi bagian lima pipa panjang. Lelaki satunya membantunya memasang pipa-pipa itu dari ujung ke ujung yang lainnya dan membuat tali simpul di tiap ujungnya. Mereka sedang mendirikan sebuah tenda.
Tenda sudah selesai didirikan. Mereka memasukkan ransel-ransenya lalu menata rapi untuk dijadikan alas kepala jika mereka tidur nantinya. Tak lupa lelaki yang hampir setengah baya itu mengunci aman sepeda motornya. Kemudian masuklah dia ke tenda. Meluruskan tubuhnya, sementara lelaki muda itu dengan tak sabar memeluknya. Mereka berpelukan lama sekali melepas rindu. Seperti rasa rindu antara saudara yang sudah lama tak berjumpa. Suara ombak tak henti-hentinya menemani kerinduan mereka.
Mereka bercerita apa saja yang mereka alami selama mereka tidak bertemu. Kadang terdengar tawa keras dan kadang menjadi pembicaraan serius. Masing-masing berebut untuk bercerita. Tanpa di sadari langit di luar tenda sudah terang. Matahari sudah mulai nampak kemerahan lalu menuning. Mereka masih asik bercerita dan bercanda.
Namun itu adalah apa yang seharusnya terjadi. Sayang sekali.
Pukul 23.05.
Lelaki yang hampir setengah baya itu masih di atas kasurnya. Di kamarnya. Ibu jarinya sibuk menari nari di layar tab yang ia pegang. Mukanya kelihatan kecewa dan sedih. Semua pesan bbm yang ia kirim hanya bertanda centang. Akhirnya dia lelah tertidur dengan tab yang masih ada digenggamannya. Sampai pagi, dan semua pesan masih dalam tanda centang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar