Minggu, 28 Desember 2014

chapter #19 | sebuah keputusan |

20 Desember 2014

Lagu 'Smooth Operator' nya Sade masih terdengar sayup-sayup di ruangan yang agak remang itu. Tangan kuatnya masih memegang salah satu buku catatan jurnalnya. Sesekali dipandanginya. Dibuka- buka halamannya. Kadang terlihat wajahnya tersenyum, kadang mengernyitkan dahi. Buku-buku jurnal itu mulai ditulisnya sejak 20 tahun yang lalu. Semua peristiwa, cerita dan pengalaman-pengalaman baru dalam hidupnya tercatat rapi di situ. Mas selalu membawa buku jurnal itu ke manapun dia pergi. Buku itu kadang basah terciprat air atau terlipat entah sampai bagaimana bentuknya. Akhirnya warna sampulnya menjadi kumal. Nah karena itulah dia namakan buku kumal.

Mas ingat kata-kata sahabatnya. "Mungkin sudah saatnya Mas mengahiri dan  menutup buku kumal itu. Ganti dengan buku baru-lah mas, kasih nama baru, biar suasana hati juga menjadi baru!". Kata sahabatnya itu menyarankan. Dwi nama sahabatnya itu. Mereka saling berkenalan kira-kira empat tahun yang lalu, dilantarkan oleh sebuah sosial media. Mas sebenarnya sangat mengagumi Dwi karena kecerdasannya, keterampilannya menulis juga opini-opininya. Kadang Mas senang mendengar banyak informasi baru dari buku-buku yang sedang dibaca oleh Dwi. Begitu pula Dwi senang mendengar cerita-cerita tentang kehidupan Mas. Dari situ mereka menjadi cocok dan sering bertemu. Kulineran atau Ngopi di tempat-tempat unik adalah kesenangan mereka berdua, atau sekedar naik sepeda motor blusukan ke desa-desa dan berenang di sumber mata air. Dwi tinggal bersama Drew, pasangannya. Mereka sudah satu tahun hidup bersama. Beberapa kali Dwi mengajak Drew berkunjung ke rumah Mas, sesekali mereka makan malam bertiga. Mereka bersahabat.

Segalas kopi Wamena di atas meja mulai berkurang panasnya. Tangan kuat itu menjangkaunya kemudian perlahan diarahkan ke bibirnya lalu diseruputnya. " Masih lumayan hangat". Katanya dalam hati. Buku-buku  kumal mulai disusun menjadi satu tumpukan rapi. Diangkatlah tumpukan buku itu lalu dimasukkan ke dalam sebuah lemari kaca di dalam kamarnya. "Selamat tinggal buku-buku kumalku, kalian akan aman di sini". Mas berkata dalam pikirannya. Mas akhirnya setuju dengan saran Dwi. Sore itu telah diputuskannya menyimpan semua buku kumalnya. Dia akan memulai dengan catatan baru di tahun baru nanti. Mas juga memutuskan untuk mulai perjalanan baru dengan harapan yang baru pula. Kisah lama biarlah tertinggal di belakang sana. Kisah yang sangat mendera perasaannya sudah siap ditinggalkan. Tidak akan mengganggu pikirannya lagi. Mengikhlaskan kisah-kisah yang memang ingin pergi meninggalkannya,

Suara Sade terdengar sayup-sayup dengan lagunya 'Send Me Some One to Love'. Mas duduk di kursi kayu terasnya. Tangannya masih memegang segelas kopi Wamena. Matanya memandang dedaunan di taman depan rumahnya. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Tentang Buku Kumalnya atau lagu 'Send Me Some One to Love'nya Sade yang sarat dengan harapan itu. Namun yang jelas Mas sedang menyematkan harapan-harapan baru di senja itu.

chapter #18 | kuil |

Desember 2014


Di depan sebuah kuil langkah lelaki itu terhenti, ia menarik nafas panjang dan dihembusknannya perlahan, berkatalah ia dalam hati. "Ku pasrahkan saja pada semesta, kalau memang aku salah mohon tunjukkan kesalahanku, namun jika aku benar tunjukkan kebenaran itu. Jangan diam kekasihku. Lalu mengapa aku mendengar suara orang mempermasalahkan kebebasanmu. Mengapa masih mempertanyakan makna kebebasan dalam cinta kasih? Jika hakikat nya adalah 'saling'?  Aku hanya manusia biasa kekasihku. Mungkin jauh dari kata kebanggaan yang kau bayangkan, jauh juga dari harapan-harapan menjanjikan kehidupan masa depan". 

Lelaki itu bergegas ke sebuah pot tempat dupa, dia ngambil tiga batang dupa  dibakarnya dengan api lilin yang sudah menyala di sana, kemudian dijepitkan diantara dua telapak tangannya. Dengan posisi menyembah dia mengangkat dupa ke atas mukanya, setelah selesai berdoa ia menancapkan pada sebuah pot yang berisi pasir dengan ratusan dupa yang sudah menancap di sana. Lalu lelaki itu melangkahkan kakinya keluar dari gerbang kuil. Perasaanya lega.

chapter #17 | jika dia mencintaimu |

Desember 2014

Jika dia mencintamu 
pasti ingin dekat denganmu
Jika terhalang jarak dan waktu
pasti akan selalu memberi kabar padamu

Sesibuk apapun dia
dia akan mengupayakan kesempatan
untuk mendengar suaramu di telepon, 
atau menyapamu dengan email atau pesan singkat

Jika dia mencintaimu
dia akan memperjuangkanmu
jika tidak
dia akan membuat banyak alasan
yang semuanya bukan salah dia 

Jika dia mencintaimu
dia tidak akan membuat mu menunggunya
tanpa kepastian

#MT 

chapter #16 | rencana yang berubah |

Awal Desember 2014


Apa yang ada di pikiranmu ketika orang yang kamu cintai tiba-tiba memohon ijin padamu untuk mengubah segala rencana yang telah kalian tetapkan dan akan kalian lakukan berdua. Dia ingin melakukan sendiri, tanpa dirimu?. 

"Mas saya mohon melakukan perjalanan akhir tahun ini sendiri, tanpa mas". Teks lelaki muda itu. 
Teks itu dikirimnya tanpa ditambahi alasan-alasan yang jelas. Mengapa perjalanan itu ingin dilakukannya sendiri, mengapa tiba-tiba ia ingin mengubah segala rencana yang telah diatur berdua dengan Mas tentunya. 
Lalu apa yang dirasakan Mas saat itu? Dia hanya menarik nafas panjang. Kecewa. Tidak tahu apa yang akan dia laku kan, hanya ibu jarinya yang menari di atas touch screen andriodnya. 

" Okelah kalau itu yang kamu mau. hanya hati-hati pesanku, jaga hati kita ya...!" 
Sebenarnya Mas semakin bingung , apa yang sedang terjadi pada anak muda itu. 

chapter #15 | Rem Sudah di Tekan |

Akhir November 2014

Mas memang selalu duduk di belakang setiap melakukan perjalanan bersamanya. Mas tidak pernah duduk di depan untuk memegang kemudi sepeda motor, artinya Mas tidak pernah menyetir atau mengendalikan sepeda motor itu. Banyak destinasi telah mereka tuju. Pegunungan, pantai, kota-kota kecil telah mereka jelajahi. Rasa bahagia, senang bahkan kesulitan-kesulitanpun telah mereka hadapi bersama. Kenyamanan sudah terbangun dengan sendirinya. Tiba-tiba dalam suatu perjalanan, rem ditekan, secara otomatispun sepeda motor itu berhenti mendadak di tengah jalan. Mas kaget, lalu turun dan bertanya : " Ada apa ini?". Si pemegang kemudi hanya diam. Mereka duduk di tepi jalan. Senyap.

Blackberry messenger  yang biasa mereka gunakan berkomunikasi sangat sibuk bunyinya siang itu. Sebuah percakapan teks seru terjadi.  
"Kita break dulu ya mas!".  Mas sedikit bingung dengan ini.  
"Maksudmu break?". Mas bertanya. 
"Ya, kita sementara tidak komunikasi dulu...". 
"Maksdumu?". Mas bertanya lagi. 
"Kita berhenti BBM an, WA ataupun, interkasi FB!, demi hubungan kita mas!" pintanya. "Saya takut bosan mas!". 

Mas hanya bingung.  ah... mengapa alasannya adalah Bosan? 

Tiba tiba hanya dengan alsasan ketakutan akan jenuh, bosan dan ingin istirahat lelaki muda itu ingin berhenti berkomunikasi pada awal bulan Desember nanti. Bukankah alasan "takut bosan" itu sebenarnya sudah jelas menunjukkan bahwa kebosanan sudah ada di hatinya???

Mas tidak pernah tahu sampai kapan.

chapter #14 | rencana |

Awal November 2014

Mereka berdua duduk dalam sebuah makan malam. Mereka sedang merencanakan suatu perjalanan panjang. Perjalanan liburan akhir tahun. Sebuah pulau di Indonesia timur yang mereka bahas. Transportasi dan akomodasi telah mereka putuskan. Mereka akan melakukan perjalanan hemat. Backpacker. Angkat ransel, tenda dan beberapa keperluan lainnya. Prjalanan akan dilakukan akhir Desember. Fix.


chapter #13 | culture shock |

November 2-14

Lelaki itu, karena pengalamannya berkawan dan bersosialisasi dengan orang-orang asing yang penuh ekspresi dan serba terbuka perasannya, dia pun terbawa dengan sikap seperti itu. Apapun yang ada di dalam hatinya selalu diungkapkan dengan jujur apa adanya. Namun ternyata sikap ini menjadi kurang benar di mata seseorang yang dia kagumi. Diapun mulai mengadaptasi sikap. Sebenarnya ini salah satu gegar budaya yang ia alami. #cultureshock #continued

chapter #12 | tertunda lagi |


akhir Oktober 2014

Kopi Gayo dibuka dari bungkusnya, dengan sendok makan butiran-butiran lembut kopi itu di pindahkannya ke dalam sebuah french press lalu diseduhnya dengan air mendidih yang baru diangkat dari kompor kecil di sebelahnya.  Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar, tanda pesan diterimanya. Mas membuka telepon genggamnya. Sebuah pesan singkat dibacanya. 
Maaf mas, saya tidak bisa bertemu mas long week end ini, karena beberapa kawan saya meminta tolong untuk antar mereka mendaki gunung, saya merasa tidak enak untuk menolak, lagi pula sudah lama saya ingin mendaki gunung juga. maaf ya mas, semoga lain kali kita bisa bertemu di suatu tempat lagi". 
Mas hanya bisa menarik nafas panjang, menutup telepon genggamnya, entah kapan dia akan membalasnya. Kopi Gayo yang baru saja dia seduh dan saring dengan french press itu diseruputnya pelan-pelan. Sebatang rokok Jarum Super dia hisap sesekali. Dia hanya bisa mengerti dan mencoba memahami pesan-pesan singkat senada dari laki-laki muda itu. Week end itu adalah hari ulang tahun Mas.  #continued

chapter #11 | tidak terjadi |

Oktober 2014

Pukul 23.05 pesan dari bbm itu diterimanya. Tandanya laki-laki hampir setengah baya itu harus siap-siap pergi. Sebuah ransel yang sudah siap disautnya dengan cepat berada sempurna dipunggungnya. Sepeda motor butut yang dibelinya 10 tahun yang lalu mengantarnya ke jalan raya. Jalanan sepi. Iya karena ini malam hari. Ia menelusuri jalan utama kota kecil itu. Ke arah timur ia pergi sampai ke perbatasan kota. Akhirnya berhentilah ia di depan sebuah swalayan mini. Diparkirkannya sepeda motor itu di sana. Ia masuk ke swalayan itu menuju sebuah konter minuman. Kopi instan dan air panas mendidih yang telah disediakan dibuatnya sendiri, setelah itu dia menuju ke kasir. Dirogohnya uang recehan dari dalam saku celananya. Ia membayar lalu keluar. Bangku kayu di depan swalayan itu didudukinnya. Perlahan dia menyeruput kopi yang ada didalam gelas kertas itu. Ia duduk melamun di situ. Seperti menunggu sesuatu. Setiap bus dari arah timur yang berhenti di depannya selalu ditengoknya. Beberpa bus sudah berhenti dan lewat begitu saja. Dia masih sabar menuggu.

Setengah jam kemudian sebuah bus kelas ekonomi berhenti di depan swalayan itu. Penumpang turun satu persatu. Seorang laki-laki muda berkulit gelap dengan celana quick dry berwarna biru dan kaos berwarna merah bergambar logo selancar turun dari bus itu. Kakinya melangkah sambil membenarkan posisi tas ranselnya yang berukuran 65 liter itu dipunggungnya. Ia melambaikan tangan kepada lelaki yang duduk di depan swalayan itu. Laki-laki itu menyambutnya. Ia berjalan mendekatinya kemudian memeluknya. “Welcome home!”. Bisiknya.

Tanpa menunggu lama mereka menuju motor butut itu. Setelah menstater mesin dia menyilakan pemuda itu memboncengnya.
Dua lelaki berbeda usia itu bergerak ke arah selatan lalu ke timur mengikuti jalanan  yang mengarah ke atas sebuah bukit. Jalan yang berkelok-kelok itu kemudian menurun. Jalanan itu melewati beberapa desa kecil, ladang-ladang ketela pohon dan beberapa hutan kering diatas pegunungan. Dalam waktu dua jam perjalanan mereka habiskan. Jalan setapak yang bisa dilalui sepeda motor dilaluinya. Hembusan angin dengan aroma laut mulai terasa. Akhirnya sampailah  mereka di sebuah bibir pantai berpasir putih yang tersembunyi dari jalan utama. Suara riuh ombak terdengar jelas.

November 2014
Lelaki muda itu mulai melepaskan ranselnya. Dipisahkannya sebuah kantung panjang. Dikeluarkan isinya kemudian dibentangkan di tanah. Dia menyambung pipa-pipa kecil menjadi bagian lima pipa panjang. Lelaki satunya membantunya memasang pipa-pipa itu dari ujung ke ujung yang lainnya dan membuat tali simpul di tiap ujungnya. Mereka sedang mendirikan sebuah tenda.

Tenda sudah selesai didirikan. Mereka memasukkan ransel-ransenya lalu menata rapi untuk dijadikan alas kepala jika mereka tidur nantinya. Tak lupa lelaki yang hampir setengah baya itu mengunci aman sepeda motornya. Kemudian masuklah dia ke tenda. Meluruskan tubuhnya, sementara lelaki muda itu dengan tak sabar memeluknya. Mereka berpelukan lama sekali melepas rindu. Seperti rasa rindu antara saudara yang sudah lama tak berjumpa. Suara ombak tak henti-hentinya menemani kerinduan mereka.

Mereka bercerita apa saja yang mereka alami selama mereka tidak bertemu. Kadang terdengar tawa keras dan kadang menjadi pembicaraan serius. Masing-masing berebut untuk bercerita. Tanpa di sadari langit di luar tenda sudah terang. Matahari sudah mulai nampak kemerahan lalu menuning. Mereka masih asik bercerita dan bercanda.

Namun itu adalah apa yang seharusnya terjadi. Sayang sekali. 

Pukul 23.05.
Lelaki yang hampir setengah baya itu masih di atas kasurnya. Di kamarnya. Ibu jarinya sibuk menari nari di layar tab yang ia pegang. Mukanya kelihatan kecewa dan sedih. Semua pesan bbm yang ia kirim hanya bertanda centang. Akhirnya dia lelah tertidur dengan tab yang masih ada digenggamannya. Sampai pagi, dan semua pesan masih dalam tanda centang.

chapter #10 | berselancar |

Oktober 2014

Dua lelaki itu menentukan pertemuan di sebuah pantai selatan di bagian paling barat Propinsi Jawa Timur. Tenda mereka dirikan. Di sana mereka melepas kerinduan. Bercinta.
Matahari sudah hampir muncul. Mereka duduk di pasir  di bibir pantai, menanti ombak bagus. Mereka akan berselacar. 

chapter #9 | gelombang |

September 2014
Dalam kepedihan hatinya lelaki itu berdoa pada semesta :
Semesta, hanya Kau penguasa laut kesabaran dan luasnya samudera hati..., berilah hamba kekuatan untuk melabuhinya..... saat ini dayung saya sedang berat dikayuh, arus dan gelombang sedang mengombang ambingkan biduk saya, namun saya percaya kuasamu untuk menenangkannya.... terimakasih Tuhan.

chapter #8 | pulau utara |

Agustus 2014
Akhirnya mereka melakukan perjalanan berdua. Sebuah pulau di utara Jawa. Di sebuah dermaga, mereka benar-benar punya waktu untuk bicara. Bicara tentang ketakutan-ketakutan akan cinta mereka.

chapter #7 | perjalanan rahasia |

Juli 2014. Ujung timur pulau Jawa.
Pemuda itu menyatakan dengan sikap keras. "Tidak boleh ada yang tahu mengenai perjalanan kita ini mas, mas harap mengerti!". Akhirnya mereka membangun sebuah cerita. 

chapter #6 | dalam warung kopi |

Juni 2014
Teriknya matahari membuat lelaki hampir setengah baya itu ingin menemukan tempat nyaman dan dingin demi menikmati secangkir kopi. Tibalah dia di sebuah pusat perbelanjaan. Dia masuk ke sebuah coffee shop. Setelah melepas ranselnya, dihempaskan badannya ke sebuah kursi nyaman, lalu dia memesan secangkir expresso. Sambil mengeluarkan buku jurnalnya, matanya mendadak tertuju pada satu lelaki muda di ujung ruang kafe itu. Dia mengenali lelaki muda itu. Pikirannya berputar mengingat di mana pernah bertemu. Beberapa menit kemudian dia melihat sebuah ransel berwarna merah dengan banyak tali dan badge bendera Indonesia. Ransel itu ada di sebelah kursi lelaki muda itu. Ya, dia mengingatnya sekarang. Mereka pernah bertemu disebuah pendakian. Merbabu.#continued

chapter #5 | sebuah pertemuan |

Mei 2014
Ada Vihara di sana. Reclining Buddha. Saya berdoa. Saya turun dari sebuah bus. Ada seseorang menghampiri saya. Dia membawa saya. Suatu tempat indah di kaki gunung. Di bagian timur pulau Jawa. Saya lelaki hampir setengah baya. Dia masih muda dari kelas pekerja.

chapter #4 | awal perjalanan ke arah timur |

Mei 2014
Bus kelas ekonomi itu perlahan mulai bergerak keluar dari terminal Giwangan. Sesekali berhenti di ujung jalan menaikkan penumpang yang tak mau menunggu di dalam terminal. Jembatan fly over Janti telah dilaluinya dengan mulus. Sekarang tiba saatnya keluar dari perbatasan kota Jogja menuju ke arah timur. Matahari pagi sering kali sinarnya menyelinap lewat jendela kaca. Lelaki itu beberapa kali menutup dan membuka korden yang terbuat dari kain satin berwarna hijau muda. Dia menyandarkan punggungnya. Mencoba untuk mencati posisi nyaman. #continued

chapter #3 | June and everything after |

Saat itu mereka semua kembali satu persatu, 
ya mereka satu persatu namun aku? sendiri dan satu ... 
dari satu persatu hanya satu yang mengkoyak hati kota ini... 
Kilometer "nol" kami biasa menghabiskan malam 
dengan kacang dan musik anak jalanan.
Akhirnya hanya satu kau mengucap selamat tinggal, 
ku tak berani menatap landasan di mana kau akan terbang...
Juni dan segalanya kembali yang tidak seperti semula lagi....
Hujan ini menitik berat bersama titik air matamu yang kau tahan,
karena kau beranggap sebagai lelaki kuat 
dengan tanganmu memeluk erat tubuhku...

mereka sudah satu persatu kembali menginjak tanah ini, 
kau belum menginjakkan kakimu sekali lagi 
di kota ini ... Mr. Cairelli!

chapter #2 | the past |

Tetap dalam ingatanku
pada sebait masa laluku
ternyata tak jelas alur dan ejanya.

Chapter #1 | sebuah perpisahan |


Lelaki itu mulai menyeruput kopinya, tangan kirinya masih memegang jurnal perjalanannya yang ditulis sekitar dua puluh tahun yang lalu. Buku itu sudah kumal apalagi memang terbuat dari kertas daur ulang. Dia menghela nafas panjang lalu meneruskan membacanya. “June and evrything after...”. Kalimat akhir dari jurnal itu. Mata lelaki itu sedikit berkaca-kaca.  Dia menutup matanya sejenak. Terbayang wajah Joseph di depannya sedang memegang gitar lalu memetiknya sambil bernyanyi perlahan.

“ So kiss me and smile for me, tell me that you’ll wait for me, hold me like you never let me go...”

Lagu Leaving on the jet plane nya John Denver dinyanyikan Joseph  sepanjang malam. Lagu ini untuk Mas, lelaki yang akan ditinggalkannya. Mas menatap wajah Joseph dengan air mata menetes perlahan di wajahnya. Besok pagi Joseph akan kembali ke negaranya. Negri paman Sam, Amerika Serikat. Ya. Malam itu adalah malam perpisahan antara mereka berdua. Sambil berangkulan di atas tempat tidur kost Joseph duduk menyandar di tembok. Sepanjang malam mereka berangkulan, sesekali Joseph mencium pipi dan mengendus rambut Mas, air matanya berlinang.

Mas mengenali Joseph saat dia menjadi tutor bahasa Indonesia di salah satu program bahasa di fakultasnya. Joseph saat itu mengambil kursus bahasa Indonesia program enam bulan lalu diteruskan kuliah di Univesitas Seni Rupa enam bulan kemudian. Mereka saling mengenal dengan baik, mereka berteman, bersahabat dan mereka sadar bahwa mereka adalah belahan jiwa.

Buku kumal itu lalu ditutupnya. Mas tidak tahan mengingat kembali memorinya. Terlalu indah namun sekaligus menggerus hatinya. Diletakkannya jurnal itu di meja. Tangannya meraih cangkir. Diseruputnya kopi itu sekali lagi. Dia menghela nafas panjang, kemudian punggungnya direbahkan ke sandaran kursi yang empuk dan nyaman itu. Matanya menerawang jauh. Mengingat semua perjalanan  yang telah ia lakukan dengan Joseph.

#continued