Minggu, 28 Desember 2014

Chapter #1 | sebuah perpisahan |


Lelaki itu mulai menyeruput kopinya, tangan kirinya masih memegang jurnal perjalanannya yang ditulis sekitar dua puluh tahun yang lalu. Buku itu sudah kumal apalagi memang terbuat dari kertas daur ulang. Dia menghela nafas panjang lalu meneruskan membacanya. “June and evrything after...”. Kalimat akhir dari jurnal itu. Mata lelaki itu sedikit berkaca-kaca.  Dia menutup matanya sejenak. Terbayang wajah Joseph di depannya sedang memegang gitar lalu memetiknya sambil bernyanyi perlahan.

“ So kiss me and smile for me, tell me that you’ll wait for me, hold me like you never let me go...”

Lagu Leaving on the jet plane nya John Denver dinyanyikan Joseph  sepanjang malam. Lagu ini untuk Mas, lelaki yang akan ditinggalkannya. Mas menatap wajah Joseph dengan air mata menetes perlahan di wajahnya. Besok pagi Joseph akan kembali ke negaranya. Negri paman Sam, Amerika Serikat. Ya. Malam itu adalah malam perpisahan antara mereka berdua. Sambil berangkulan di atas tempat tidur kost Joseph duduk menyandar di tembok. Sepanjang malam mereka berangkulan, sesekali Joseph mencium pipi dan mengendus rambut Mas, air matanya berlinang.

Mas mengenali Joseph saat dia menjadi tutor bahasa Indonesia di salah satu program bahasa di fakultasnya. Joseph saat itu mengambil kursus bahasa Indonesia program enam bulan lalu diteruskan kuliah di Univesitas Seni Rupa enam bulan kemudian. Mereka saling mengenal dengan baik, mereka berteman, bersahabat dan mereka sadar bahwa mereka adalah belahan jiwa.

Buku kumal itu lalu ditutupnya. Mas tidak tahan mengingat kembali memorinya. Terlalu indah namun sekaligus menggerus hatinya. Diletakkannya jurnal itu di meja. Tangannya meraih cangkir. Diseruputnya kopi itu sekali lagi. Dia menghela nafas panjang, kemudian punggungnya direbahkan ke sandaran kursi yang empuk dan nyaman itu. Matanya menerawang jauh. Mengingat semua perjalanan  yang telah ia lakukan dengan Joseph.

#continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar