Lelaki
itu mulai menyeruput kopinya, tangan kirinya masih memegang jurnal
perjalanannya yang ditulis sekitar dua puluh tahun yang lalu. Buku itu
sudah kumal apalagi memang terbuat dari kertas daur ulang. Dia menghela
nafas panjang lalu meneruskan membacanya. “June and evrything after...”.
Kalimat akhir dari jurnal itu. Mata lelaki itu sedikit
berkaca-kaca. Dia menutup matanya sejenak. Terbayang wajah Joseph di
depannya sedang memegang gitar lalu memetiknya sambil bernyanyi
perlahan.
“ So kiss me and smile for me, tell me that you’ll wait for me, hold me like you never let me go...”
Lagu
Leaving on the jet plane nya John Denver dinyanyikan Joseph sepanjang
malam. Lagu ini untuk Mas, lelaki yang akan ditinggalkannya. Mas menatap
wajah Joseph dengan air mata menetes perlahan di wajahnya. Besok pagi
Joseph akan kembali ke negaranya. Negri paman Sam, Amerika Serikat. Ya.
Malam itu adalah malam perpisahan antara mereka berdua. Sambil
berangkulan di atas tempat tidur kost Joseph duduk menyandar di tembok.
Sepanjang malam mereka berangkulan, sesekali Joseph mencium pipi dan
mengendus rambut Mas, air matanya berlinang.
Mas
mengenali Joseph saat dia menjadi tutor bahasa Indonesia di salah satu
program bahasa di fakultasnya. Joseph saat itu mengambil kursus bahasa
Indonesia program enam bulan lalu diteruskan kuliah di Univesitas Seni
Rupa enam bulan kemudian. Mereka saling mengenal dengan baik, mereka
berteman, bersahabat dan mereka sadar bahwa mereka adalah belahan jiwa.
Buku
kumal itu lalu ditutupnya. Mas tidak tahan mengingat kembali memorinya.
Terlalu indah namun sekaligus menggerus hatinya. Diletakkannya jurnal
itu di meja. Tangannya meraih cangkir. Diseruputnya kopi itu sekali
lagi. Dia menghela nafas panjang, kemudian punggungnya direbahkan ke
sandaran kursi yang empuk dan nyaman itu. Matanya menerawang jauh.
Mengingat semua perjalanan yang telah ia lakukan dengan Joseph.
#continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar